Investasi Properti: Apartemen atau Rumah?

Jakarta.

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar nama kota yang satu ini? Macet. Padat. Polusi. Bisnis. Gedung pencakar langit. Metropolitan. Pusat perbelanjaan. Banjir. Sumpek. Bising. Pengangguran. Elite. Hibuk.

Tidak sedikit cemoohan yang diberikan pada kota dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia ini. Namun uniknya, tak peduli sebanyak apa pun kesan negatif yang disematkan pada Jakarta, nyatanya jumlah penduduknya tetap tinggi. Masih banyak pula masyarakat luar daerah yang nekat memberangkatkan diri ke ibukota untuk mengadu nasib. Mencari peruntungan, meski kadang tidak bermodalkan kemampuan atau pengalaman.

Jumlah Penduduk yang Terlalu Padat

Berdasarkan data yang didapat dari situs Kemendagri (kemendagri.go.id), jumlah penduduk Jakarta pada tahun 2015 mencapai 9.988.495 jiwa. Sementara itu, luas wilayah DKI Jakarta sendiri seluas 664,01 km2. Artinya, ada sekitar 15 ribu jiwa/km2.  Tentu ini bukanlah angka yang kecil dan ideal sebagai persentase antara luas wilayah dengan jumlah penduduk yang semestinya menempati wilayah tersebut.

Pemicu ketimpangan tersebutadalah faktor perpindahan penduduk. Penghuni Jakarta yang berstatus sebagai pendatang cukup banyak jumlahnya. Hal ini juga dapat diamati ketika musim hari raya Idulfitri. Jakarta yang biasanya padat mendadak menjadi sangat sepi dan lengang. Selain pekerjaan, faktor lain yang menyebabkan perpindahan ini adalah pendidikan.

Di samping perpindahan penduduk, angka mortalitas dan natalitas di Jakarta juga tidak seimbang. Angka natalitas alias kelahiran jauh lebih tinggi dibandingkan angka kematian. Tren menikah di usia muda (khususnya dari pihak perempuan) juga sangat memengaruhi keadaan ini. Belum lagi dengan anggapan ‘banyak anak banyak rezeki’ yang masih dianut oleh sebagian masyarakat terutama dari golongan ekonomi bawah. Tidak hanya memperparah kepadatan, angka kemiskinan pun juga turut naik.

Lahan untuk Pemukiman Sangat Terbatas

Bertambahnya penduduk tentu sewajarnya sebanding dengan kenaikan jumlah pemukiman dan berkurangnya lahan. Jika keadaan sudah berlebihan, lantas bagaimana solusinya? Jika sudah tidak ada lagi rumah layak yang dapat dihuni, bagaimana harus meneruskan keberlangsungan hidup?

Pengembang properti yang melihat kebutuhan ini menangkapnya sebagai suatu peluang bisnis. Jika sudah tidak ada lagi lahan tersisa untuk digarap secara horizontal, maka cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pembangunan vertikal. Apartemen-apartemen semakin banyak didirikan. Dan kini rasa-rasanya, tak peduli sebanyak apa apartemen yang dibangun, okupansinya juga tetap tinggi.

Properti untuk Investasi

Sebenarnya, properti yang dihuni, termasuk apartemen dan rumah, merupakan salah satu bentuk investasi. Tempat tinggal yang Anda huni tidak hanya memiliki nilai manfaat sebagai tempat berteduh, melainkan juga manfaat investasi. Anda mungkin tidak terlalu peduli atau bahkan berpikir untuk menjadikannya sebagai sebuah investasi. Akan tetapi, peranan dan pasar properti di masa depan sangat besar.

Termasuk pula investasi pada apartemen. Okupansi yang tinggi bukan berarti secara mutlak menyatakan bahwa semua ruang yang terbeli atau tersewa ditinggali. Tidak sedikit orang-orang yang membeli apartemen baru—terutama saat masa-masa promo di awal—padahal sudah memiliki hunian, bahkan rumah pribadi. Ini adalah siasat dan cara mereka untuk berinvestasi. Memahami bahwa kebutuhan properti tidak akan pernah habis, mereka mulai mengambil start di awal.

Rumah atau Apartemen?

Faktor yang mendorong untuk memilih murni tinggal di apartemen adalah karena lokasinya yang lebih dekat dengan lokasi kerja. Apartemen memang banyak didirikan di pusat bisnis sebagai alternatif mahal dan langkanya rumah di kawasan tersebut. Faktanya, kini memang agak susah mencari rumah murah di Jakarta. Selain itu, beragam fasilitas dasar apartemen seperti kolam renang, gym, dan minimarket membuat penghuni apartemen tidak perlu jauh-jauh untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun jika harus dibandingkan, bagaimana prospek serta kelebihan dan kekurangan apartemen dan rumah?

  • Apartemen
  • Kelebihan
    • Fasilitas lengkap

Apartemen pada dasarnya dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan individu modern. Individu seperti ini identik dengan mereka yang ingin serba praktis, terutama karena lebih banyak menghabiskan waktunya untuk pekerjaan. Maka dari itu, jika ada hunian yang sekaligus menawarkan pusat kebugaran, jasa binatu, toko dan pusat perbelanjaan, tempat makan, dan sebagainya, mengapa harus mencari yang lebih repot?

  • Cocok untuk investasi jangka menengah

Gaya hidup modern yang kian marak menjadikan individu di kota besar, khususnya Jakarta, akan memilih apartemen. Dalam investasi, semakin strategis kawasan apartemen yang Anda pilih, semakin mudah Anda dapat menyewakan atau menjualnya kepada orang lain. Selain itu, memberi harga yang tinggi pun dirasa pas karena sesuai dengan kemudahan aksesnya.

  • Kekurangan
    • Banyak aturan
    • Lahan terbatas
  • Rumah
  • Kelebihan
    • Harga tanah cenderung selalu naik

Jika Anda ingin berinvestasi rumah di Jakarta dan menemukan rumah murah di Jakarta yang siap dijual, jangan lewatkan kesempatan ini. Namun jangan gegabah. Tetap perhatikan hal-hal yang harus Anda cermati sebelum membeli rumah tersebut, seperti dokumen, lokasi, tren pasar, dan sebagainya.

  • Investasi jangka panjang

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Karena luas lahan semakin dan harga tanah semakin naik, rumah yang Anda miliki juga tentu semakin tinggi nilainya. Rentang waktu penjualannya pun mencapai 35 tahun atau bahkan lebih—namun pastikan kondisinya baik.

  • Kekurangan
    • Waktu penjualan lebih lama

Anda memang harus lebih bersabar jika hendak menjual rumah. Mencari pembeli rumah tidak semudah menemukan pembeli atau penyewa apartemen, khususnya di Jakarta. Salah-salah, jika Anda terburu-buru, bisa jadi harga yang Anda dapatkan justru jauh di bawah pasar.

  • Biaya perawatan mahal

Jika rumah yang Anda investasikan juga merupakan hunian, mungkin bukan suatu masalah karena pasti Anda rawat. Namun, apabila rumah investasi tersebut dalam keadaan kosong, Anda tentu akan memerlukan biaya ekstra untuk perawatannya.

Nah, itulah beberapa pertimbangan dalam memilih properti untuk berinvestasi. Semoga membantu! J