Empat Langkah Perusahaan Sukanto Tanoto Dalam Pengelolaan Hutan Lestari

Dari waktu ke waktu, luasnya hutan di Indonesia semakin menyempit. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh United Nations Environment Programme dan Food and Agriculture Organisation pada 2009, luas hutan di Indonesia menyusut sebanyak dua persen per tahun.

Salah satu penyebab utamanya adalah kebakaran hutan. Namun, ternyata masalah ini bukanlah sekadar bencana alam. Meski kondisi iklim Indonesia memang memengaruhi, pengelolaan hutan yang buruk juga menjadi alasan utama.

Atas dasar ini, pengelolaan hutan yang baik mesti dilakukan secara menyeluruh. Semua harus terintegrasi agar upaya menjaga kelestarian hutan bisa terjaga. Pasalnya, tanpa itu semua, usaha merawat hutan akan sia-sia.

Salah seorang pengusaha sukses Indonesia, Sukanto Tanoto, memberi 4 contoh tentang cara pengelolaan hutan yang baik untuk menjaga hutan dari bahaya kerusakan diantaranya adalah:

Konservasi dan Restorasi Hutan

Perusahaan Sukanto Tanoto melakukan perlindungan terhadap hutan seluas 400 ribu hektare. Di sana mereka membaginya menjadi dua sistem, yakni konservasi dan restorasi. Lahan seluas 250 ribu hektare diidentifikasi sebagai High Conservation Value Forest (HCVF) sehingga dijadikan area konservasi. Sementara itu, 150 ribu hektare hutan di kawasan Semenanjung Kampar direstorasi.

Bukan hanya itu, dalam pengelolaan hutan, perusahaan Sukanto Tanoto juga menjalankan program Satu Banding Satu. Mereka berkomitmen melakukan praktik konservasi untuk hutan seluas satu hektare ketika memakai lahan satu hektare untuk produksi.

Pengelolaan Air

Pengelolaan hutan yang baik tidak akan bisa terjadi jika tidak ada manajemen air yang apik. Lahan yang kering mempermudah terciptanya kebakaran. Apalagi di daerah dengan lahan gambut.

Atas dasar ini, perusahaan Sukanto Tanoto memulai pengelolaan hutan dengan penataan sistem pengairan di hutan. Mereka selalu mengontrol kondisi air di area hutan dan memastikannya berada di titik yang aman. Langkah ini dilakukan berdasar temuan ilmiah dan pengalaman sebagai pelaku industri kehutanan sejak lama.

Antisipasi Kebakaran

Perusahaan Sukanto Tanoto memilih melakukan langkah antisipatif dalam menjaga hutan dari kebakaran. Pengelolaan hutan yang baik diyakini hanya bisa terjadi jika berupaya menghindari kerusakan dibanding memperbaiki hutan.

Pandangan ini diwujudkan secara nyata oleh perusahaan Sukanto Tanoto dengan menggagas program Desa Bebas Api pada 2014. Pada intinya, kegiatan ini adalah upaya mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungannya bebas dari kebakaran lahan dan hutan.

Nantinya setiap desa yang mampu melakukannya bakal mendapat sebesar Rp100 juta per tahun. Dana itu bakal diberikan oleh perusahaan Sukanto Tanoto dalam wujud sumbangan untuk kemaslahatan masyarakat desa seperti pembangunan infrastruktur dan sarana umum.

Pemberdayaan Masyarakat

Perusahaan Sukanto Tanoto memahami bahwa pengelolaan hutan tak hanya merawat hutan itu sendiri namun juga memerhatikan masyarakat di sekitarnya. Sebab, banyak pihak yang menggantungkan hidupnya terhadap hutan. Menurut studi World Resources Institute’s Forests and Landscapes in Indonesia pada 2016, sekitar 50 hingga 60 juta orang Indonesia benar-benar menggantungkan hidup dari hutan.

Oleh karena itu, salah satu fokus kegiatan Tanoto Foundation adalah dengan mengajari beragam keterampilan baru, agar masyarakat sekitar hutan bisa semakin terampil dalam mengolah bahan-bahan dari hutan dengan bijaksana. Selain itu, mereka juga dibimbing dan dibantu supaya mandiri. Harapannya adalah untuk meningkatkan perekonomiannya tanpa mengeksploitasi hutan secara berlebihan.